Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sejarah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 31 Mei 2024

Ulasan Lagu: Tak Tersembunyi Ujung Jalan

Kawan sekalian, syair Wat de toekomst brengen moge atau yang dalam bahasa Indonesia artinya Apa yang mungkin terjadi di masa depan adalah puisi dan lagu yang ditulis oleh penyair Belanda Jacqueline E. van der Waals. Yamuger dalam Kidung Jemaat No. 416 memberikan judul Tersembunyi Ujung Jalan.

Puisi tersebut ditulis Van der Waals dari sudut pandang seseorang yang akan segera meninggal atau pasrah dengan kematian yang akan dihadapi. Banyak orang berasumsi bahwa Van der Waals menulis puisi itu ketika ia sedang berada di ranjang kematian karena pada ayat keempat tampak belum selesai dan hanya separuh saja panjangnya.

Kamis, 25 Februari 2021

Menelusur Jejak Cinta Raja Salomo dan Ratu Syeba

 


KABAR kemasyuran Raja Salomo bin Daud tersiar sampai ke telinga ratu negeri Syeba. Keberadaan raja ketiga Israel dari suku Dan itu mampu menggundang kedatangan sosok perempuan yang juga dikenal dengan nama Ratu Balqis dalam tradisi Arab.

 

Ia sebagai seorang wanita eksotis dan juga misterius meskipun kisahnya telah diceritakan lebih dari 3.000 tahun di banyak negeri dan diabadikan dalam karya-karya besar agama dunia, di antaranya Alkitab dan Alquran. Selain itu, Ratu Balqis juga muncul dalam lukisan Turki dan Persia, dalam risalah Kabbalistik, dan dalam karya-karya mistik abad pertengahan Kristen.

Minggu, 06 Maret 2016

Mr. A. A. Maramis, Tokoh Pejuang Lintas Agama

AA Maramis

Oleh: Joutje A. Koapaha (Jako) Paputungan
“…Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana...”
BAHWA Tanah Malesung Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lumbung Pahlawan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tidak satu pun yang diragukan masyarakat Sulut plus. Itu terbukti melalui kepeloporan dan keteladanan nama-nama heroik asal Sulut seperti Robert Wolter Mongisidi, Walanda Maria Maramis, GSSJ Ratulangi, John Lee, dan P.N. Palar. Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana.

Peristiwa 14 Februari 1946 dalam Penilaian Sebenarnya

Benny Matindas
Oleh: Benni E. Matindas

GERAKAN patriotik Merah-Putih yang mengkudeta kekuasaan kolonial di Sulawesi Utara pada 14 Februari 1946 sungguh sebuah tonggak sejarah kebangsaan Indonesia yang sangat penting dan dengan dampak sangat strategis bagi perjuangan kemerdekaan republik ini. Tapi sayang, secara historiografis ia terlalu sering dinilai di bawah nilai seharusnya. Nyaris selamanya terdepresiasi. Bahkan banyak buku pelajaran sejarah nasional Indonesia tak mencatatnya setitik pun. Versi termutakhir sejarah nasional Indonesia, Indonesia dalam Arus Sejarah (2012), 9 jilid, yang kendati penulisannya melibatkan beberapa sejarawan asal Sulut (seperti Prof. A.B. Lapian) yang bahkan pula memiliki latar belakang kedekatan dengan para pelaku Peristiwa Merah Putih 14 Februari, pun ternyata cuma mencatatkan beberapa kalimat [dalam Jilid 6] mengenai perjuangan monumental ini.

Senin, 22 Juli 2013

Sejarah Penamaan NUSA UTARA

Nusa Utara adalah sebuah nama yang merujuk pada pulau-pulau di utara pulau Sulawesi (Celebes). Nusa Utara pada skala keindonesiaan kini terdiri dari tiga kabupaten, antara lain Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Sebutan Nusa Utara berawal dari Belanda sebagai ‘noorder-einlanden’, pulau-pulau lebih Utara. Lazimnya istilah Belanda itu diterjemahkan, ‘Nusa Utara’. Buku Viersen tahun 1903 membenarkan hal ini: “Adapoen maka poelau-poelau Sangir dan Talaoet doedoek pada pihak Timoer laoet tanah Minahasa. Masa keperintahan Kompeni Hindia Nederland maka poelau-poelau itoe diseboet: Poelau-poelau yang doedoeknja lebih ke Utara”.

Kamis, 23 Mei 2013

Kronologi Perjuangan Pembentukan Kabupaten Talaud

Perjuangan Talaud
Tulisan yang mengurai kronologi ini merupakan lanjutan dari artikel Kronologi Terbentuknya Kabupaten Talaud.
1. Pada 30 Desember 1994, diadakan pertemuan kekeluargaan di rumah Dinas Pembantu Bupati Wilayah Talaud antara tokohmasyarakat, ulama, Pentua-pentua adat, wakil generasi muda dengan Drs. J. Liunsanda dan menghasilkan kesepakatan tidak mempersoalkan kedudukan ibukota bakal kabupaten Talaud dan menyerahkan sepenuhnya kepada pemerintah untuk menentukannya.

Rabu, 22 Mei 2013

Kronologi Terbentuknya Kabupaten Talaud


Wilayah Talaud
Sejarah terbentuknya kabupaten Talaud, merupakan klimaks dari suatu rangkaian panjang proses perjuangan selama setengah abad dari putra-putri terbaik Porodisa Talaud. Proses inipun merupakan kelanjutan dari perjuangan generasi-genegrasi sebelumnya, demi mempertahankan dan menegakan kedaulatan wilayah terhadap rongrongan dari luar. Perjuangan ini diilhami oleh ungkapan bahwa Kepulauan Talaud merupakan “Udha Makatraya” atau “Payung Utara” bagi kerajaan Majapahit (1290 – 1520) dalam buku Atlas Sejarah, karangan Moh. Yamin, SH.

Jumat, 21 September 2012

Asal-usul Kota Manado


Buku dengan judul "Kabar Baik dari Pesisir, Sejarah GMIM Wilayah Manado Utara II" yang ditulis Iverdixon Tinungki mengulas risalah tentang sejarah Kota Manado, berangkat dari sebuah artikel yang diposkan uBlog berjudul “Manado Dalam Peta Dunia” yang memaparkan betapa pentingnya kedudukan pesisir Utara Manado dan muara Kali Tondado di pantai Sindulang sejak abad XVI.

Asal-usul Suku Bantik

Tari Perang Suku Bantik
Suku Bantik yang mendiami pesisir ini, meski saat ini cenderung telah diklaim sebagai salah satu sub suku dari etnik Minahasa namun menurut Ernst Kausen, asal-usul Etnik Bantik sebenarnya berasal dari Sangihe yakni dari Kerajaan Kendahe.

Minggu, 13 November 2011

The Wonders of Coliseum

One of the most famous places of Rome is without a doubt is the Coliseum. The wonder one, Coliseum, was built somewhere between the 70 and 72 AD and had become the pride and joy of Rome.

Jumat, 07 Oktober 2011

Penamaan Nusa Utara | Sejarah di Sulawesi Utara

Nusa Utara adalah sebuah nama yang merujuk pada pulau-pulau di utara pulau Sulawesi (Celebes). Nusa Utara pada skala keindonesiaan kini terdiri dari tiga kabupaten, antara lain Kabupaten Kepulauan Sangihe, Kabupaten Kepulauan Talaud, dan Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro.

Sebutan Nusa Utara berawal dari Belanda sebagai ‘noorder-einlanden’, pulau-pulau lebih Utara. Lazimnya istilah Belanda itu diterjemahkan, ‘Nusa Utara’. Buku Viersen tahun 1903 membenarkan hal ini: “Adapoen maka poelau-poelau Sangir dan Talaoet doedoek pada pihak Timoer laoet tanah Minahasa. Masa keperintahan Kompeni Hindia Nederland maka poelau-poelau itoe diseboet: Poelau-poelau yang doedoeknja lebih ke Utara”.

Setengah Abad Kerajaan Siau | Sejarah di Sulawesi Utara

Kedatuan (kerajaan) Siau, sebuah sistem pemerintahan komunal masa lampau yang berkedudukan di pulau Siau (02o 45’ 00’’ LU dan 125o 23’ 59’’ BT), pemimpin dari sistem ini digelari DATU – sebuah kosa kata bahasa Melayu Kuno. Didirikan oleh Lokongbanua (II) yang merupakan anak dari Pahawonsuluge dengan Hiabe Lombun Duata. Dia sekaligus didaulat menahkodai Kedatuan Siau pada tahun 1510.

Dalam berbagai catatan sejarah, kerajaan ini pernah memiliki bagian kerajaan yang meliputi bagian selatan Sangihe, pulau Tagulandang, pulau Kabaruan (Talaud), pulau-pulau teluk Manado (kerajaan Bawontehu), serta di wilayah pesisir jazirah Sulawesi Utara (Minahasa Utara), dan wilayah kerajaan Bolangitan atau Kaidipang (Bolaang Mongondow Utara). Bahkan pernah melakukan ekspansi sampai ke wilayah Leok Buol dan Makassar demi mengejar armada laut kerajaan Makassar yang tengah menduduki Bolaang Mongondow.

Kerajaan Tabukan | Sejarah di Sulawesi Utara

Setelah raja Makaampo meninggal, putranya Wuatengsemba menjadi raja Tabukan yang pertama dalam masa penjajahan Portugis dan Spanyol 1575-1610. wuatengsemba kawin dengan putrid Tansekoa, putri ratu Lohoraung. Wilayah kerajaan meliputi tanjung Selimahe sampai tanjung Padarehokang kecuali wilayah Tamako dari tanjung Lelapide sampai Toademanandu, yang tergabung dengan kerajaan Siau pada masa pemerintahan Makaampo dan kepulauan Talaud dikurangi dengan kerajaan Nanusa termasuk pulau Miangas diberikan kepada putri Doloweli, saudaranya, setelah kawin dengan raja Tahuna Tatehe Woba. Dalam pemerintahannyalah bangsa Portugis mengunjungi Tabukan.

Kerajaan Kolongan | Sejarah di Sulawesi Utara

Pada jaman penjajahan bangsa Portugis dan Spanyol, raja Kolongan Pontoralage yang bersahabat dengan raja siau Wuisang telah memintakan pastor Diego Magelhaes datang di Kolongan. Permintaan tersebut dapat disanggupi oleh Padri dan ditemani oleh raja Wuisang ke Sangihe pada tahun 1568.

Sampai di Kolongan raja dipermandikan dan dinikahkan. Kemudian pastor mengadakan permandian massal untuk para bobato dan penduduk di sungai Akembawi pada tanggal 10 Nopember 1568.

Kerajaan Siau | Sejarah di Sulawesi Utara

Kerajaan Siau banyak mendapat pengaruh dari bangsa Portugis dan Spanyol sehingga Spanyol mendirikan benteng Gurita di Ondong dan benteng Santa Rosa di Ulu Lento. Sebagai raja yang pertama ialah Lokombanua II diganti oleh anaknya Pasumah yang memerintah dari 1540-1561. Dalam pemerintahannya terjadi peristiwa Liwua Daha, yaitu pertempuran antara Paseng dan Ulu.

Sebagai raja berikutnya yang menggantikan raja Pasumah ialah raja Wuisang yang memerintah dari tahun 1561-1585. Dalam pemerintahannya bangsa Portugis berkuasa di Siau. Beliau adalah raja pertama yang menerima agama Kristen dan langsung dipermandikan oleh Pastor Diego Magelhaes pada 1563 di Manado dengan beroleh gelar: Don Jeronimo Wuisang. Pada tahun 1566 Pastor Pedro Maxarenhas tiba di Siau dan atas kebijaksanaannya raja dan rakyat dapat diperdamaikan.

Kerajaan Manado | Sejarah di Sulawesi Utara

Jika anda merupakan orang yang tertarik mempelajari sejarah atau mungkin hanya sekedar ingin tahu saja, apalagi tentang Sejarah Kerajaan Manado, maka artikel ini direkomendasikan untuk wajib dibaca.

Bangsa barat yang pertama-tama menemukan Manado ialah pelayar Portugis Simao d’Abreu pada tahun 1523. Kerajaan Manado pada waktu itu meliputi pulau-pulau sekeliling Minahasa dan sepanjang pantai Minahasa.