Tampilkan postingan dengan label News Katulistiwa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label News Katulistiwa. Tampilkan semua postingan

Minggu, 10 Maret 2019

Aminah, Minahasa, dan Pilpres 2019

Aminah Popa punya pandangan istimewa.(Foto: Rahadih Gedoan)
Namanya Aminah Popa. Sehari-hari ia berjualan di depan makam Imam Bonjol. Aminah mengaku masih keturunan seorang pengawal Imam Bonjol.
Sempat berbincang-bincang sejenak dengannya, Sabtu (23/2/2019). Aminah tak suka para pendukung Prabowo memolitisir isu agama seperti sekarang untuk kepentingan pencalonan presiden.

Jumat, 24 Maret 2017

Oto ST 20 Riwayatmu Dulu

Mempersoalkan tentang keberadaan Go-Jek, Go-Kar, dan Taxi Gelap, saya tiba-tiba teringat keberadaan andalan transportasi Kota Manado dulu, yaitu ST 20. Eh, apa kabar oto itu sekarang? Kalau tidak salah ingat, tahun 2006-an saya masih bisa melihat ST 20 berpelat kuning di sekitar Terminal Karombasan untuk melayani angkutan masyarakat hingga ke lorong-lorong kecil di Ranotana Weru dan sekitarnya. Selain di situ, ada juga ST 20 yang beroperasi di kompleks Pasar Bahu, Terminal 'bayangan' Dolog, Winangun, Sea, dan di pasar Tuminting.

Minggu, 21 Agustus 2016

Pentas Puisi Gugur karya WS Rendra

Pementasan puisi yang dimainkan Vox Theater Club Manado di acara Pentas Sastra yang dilaksanakan Balai Bahasa Sulawesi Utara, 20 Agustus 2016. Berikut ini foto-fotonya:

Jumat, 08 April 2016

Temu Karya Taman Budaya di Jambi

Aku saat uji coba panggung di Jambi
Pada 15 Juni 2013 yang silam, aku pernah pentas bersama sejumlah seniman yang tergabung dalam Tim Taman Budaya Manado, di Jambi, dalam acara Temu Karya Taman Budaya. Dengan mengangkat tema Pergelaran Seni Tradisional, kegiatan yang jadi ajang mempertemukan semua kesenian tradisional dari berbagai daerah di Indonesia ini sungguh menarik perhatian.

Tim Taman Budaya Manado kala itu menampilkan kolaborasi pembacaan puisi modern, Sasambo, musik Tagonggong, dengan ritual Potong Tamo, yang menjadi budaya khas etnis Sangihe. Video Pentas Temu Karya Taman Budaya di Jambi tahun 2013 itu dapat ditonton di YouTube melalui link di sini. Waktu itu, aku berperan sebagai pembaca puisi, yang membawakan karya Iverdixon Tinungki berjudul Sambo Ghenggona. Ada beberapa alat musik Bambu yang dihadirkan dan memberikan sentuhan musik latar yang apik. Ada juga tarian Gunde yang ikut ditampilkan dalam kolaborasi ini.

Sabtu, 19 Maret 2016

Mencoba Layanan di Sparks Lite Manado

Hotel Spark Lite Manado
Aku barangkali satu di antara banyak orang Manado yang punya hobi Menginap di Hotel. Aku selalu penasaran dengan layanan yang dimiliki tiap hotel di Manado. Apalagi kalau ada hotel yang baru saja dibuka. Banyak hotel di Manado yang menyodorkan harganya hanya terpaut sedikit saja, namun fasilitas dan layanannya selalu beda-beda.

Jumat, 18 Maret 2016, aku mencoba Sparks Lite Manado yang beralamat di Jalan Kol Sugiono 21, Marambak, Manado. Kesan buruk pertama sudah terlihat pada sempitnya area parkir kendaraan yang ada di base hotel. Mobil yang masuk terpaksa harus menitipkan kunci agar bisa gantian posisi parkir.

Selasa, 15 Maret 2016

Jual Perhiasan Zaman Belanda

3 butir Berlian yang ingin dijual.
Melalui Michael Watti, sahabat sejak masih di bangku SMA dulu, pada tanggal 5 Agustus 2015 lalu, saya berkenalan dengan Welly, marganya saya benar-benar lupa tanya. Dia tinggal di Desa Sea, Minahasa. Tak disangka, dia memiliki beberapa koleksi perhiasan antik dari zaman Belanda yang ingin dijual.

Minggu, 13 Maret 2016

JS Badudu Tutup Usia

JS Badudu
Waktu masih berstatus mahasiswa Fakultas Sastra Unsrat Manado, saya mengenalnya sebagai penulis buku dengan judul yang relatif aneh waktu itu: Inilah Bahasa Indonesia Yang Benar I, II, dan III (1993). Jusuf Sjarif Badudu atau yang akrab dikenal dengan nama singkatnya JS Badudu, akhirnya meninggal dunia pada usia 89 tahun, Sabtu, 12 Maret 2016, pukul 22:10 WIB, di Rumah Sakit (RS) Hasan Sadikin, Bandung.

Minggu, 06 Maret 2016

Mr. A. A. Maramis, Tokoh Pejuang Lintas Agama

AA Maramis

Oleh: Joutje A. Koapaha (Jako) Paputungan
“…Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana...”
BAHWA Tanah Malesung Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lumbung Pahlawan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tidak satu pun yang diragukan masyarakat Sulut plus. Itu terbukti melalui kepeloporan dan keteladanan nama-nama heroik asal Sulut seperti Robert Wolter Mongisidi, Walanda Maria Maramis, GSSJ Ratulangi, John Lee, dan P.N. Palar. Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana.

Peristiwa 14 Februari 1946 dalam Penilaian Sebenarnya

Benny Matindas
Oleh: Benni E. Matindas

GERAKAN patriotik Merah-Putih yang mengkudeta kekuasaan kolonial di Sulawesi Utara pada 14 Februari 1946 sungguh sebuah tonggak sejarah kebangsaan Indonesia yang sangat penting dan dengan dampak sangat strategis bagi perjuangan kemerdekaan republik ini. Tapi sayang, secara historiografis ia terlalu sering dinilai di bawah nilai seharusnya. Nyaris selamanya terdepresiasi. Bahkan banyak buku pelajaran sejarah nasional Indonesia tak mencatatnya setitik pun. Versi termutakhir sejarah nasional Indonesia, Indonesia dalam Arus Sejarah (2012), 9 jilid, yang kendati penulisannya melibatkan beberapa sejarawan asal Sulut (seperti Prof. A.B. Lapian) yang bahkan pula memiliki latar belakang kedekatan dengan para pelaku Peristiwa Merah Putih 14 Februari, pun ternyata cuma mencatatkan beberapa kalimat [dalam Jilid 6] mengenai perjuangan monumental ini.

Enoch Saul

Enoch Saul
Nama lengkapnya Drs Enoch Telfianus Saul. Lahir di Tahuna, 17 Maret 1967. Enoch menempuh pendidikan seni di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Manado.

Selain aktif mengikuti pameran skala nasional, hingga tahun 2016 ini Enoch tercatat sebagai Kepala SMP Negeri 14 Manado, yang sekaligus merangkap guru Seni Rupa dan Dekorator.

Jumat, 04 Maret 2016

Bertemu Enoch Saul



Enoch Saul

Saya berteman dengan Enoch Saul sudah lama sekali. Untuk jadi acuan tahun, mungkin sebaiknya saya menyebutkan tahun 2001 sebagai awal kedekatan dengan sosok pelukis ini. Banyak yang dibicarakan pada 20 Jauari 2016 itu, setelah sekian waktu tak berjumpa.

Mendaki Puncak Gunung Makaweimben

Tiba di puncak Gunung Makaweimben
Sudah lama keinginan mendaki puncak Gunung Makaweimben, namun baru terealisasi tanggal 2 Januari 2016. Lelah juga mendaki gunung yang terlihat 'hanya sejauh doa' tersebut dari Kelurahan Marawas, Tondano, Minahasa. Setelah lama tak pernah mendaki lagi bersama teman-teman dari Mahasiswa Pencinta Alam (MPA) Artsas Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) Manado, coba mendaki kali ini agak sulit.

Rabu, 02 Maret 2016

Mahalnya Ruang Bermain Anak-anak

Lahan reklamasi jadi pilihan lokasi bermain yang indah
Tanggal 29 Januari 2016 lalu, saya sempat jalan-jalan di Kantor Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kota Manado yang berlokasi di wilayah Bahu, bersebelahan dengan Big Fish Restaurant. Di bagian belakang kantor tersebut, ke arah laut, tampak beberapa anak-anak asyik bermain. Saya sempat bergumam, alangkah luar biasanya pembangunan menggilas hak-hak manusia sehingga tempat bermain bagi anak-anak jadi barang mahal.

Selasa, 28 Januari 2014

33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh

Agus R Sarjono, Jamal D Rahman, dan Berthold Damshauser.
Inilah daftar 33 tokoh Sastra Indonesia yang disebut-sebut sebagai tokoh yang paling berpengaruh versi buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh. Buku yang diluncurkan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (3/1/2014) ini, ditulis oleh Jamal D Rahman, Acep Zamzam Noor, Agus R Sarjono, Ahmad Gaus, Berthold Damshäuser, Joni Ariadinata, Maman S Mahayana, dan Nenden Lilis Aisyah. Nama dari 33 tokoh tersebut adalah:

Jumat, 24 Januari 2014

Banjir Manado Awal Tahun 2014 Terparah Sepanjang Sejarah

Salah satu lokasi banjir di depan kantor Walikota Manado
Serbuan banjir bandang pada hari Rabu (15/01) lalu yang menimpa hampir seantero kota Manado menggugah lagi kesadaranku mengenai kekuatan alam yang selalu saja sulit diprediksi manusia. Ketika bangun pada pagi hari itu aku seketika terperangah menyaksikan aliran sungai di belakang rumah yang naik sekitar 5 meter dari kondisi nornalnya. Pagi itu jam di rumah sudah menunjukkan pukul 8 lewat sedikit. Sambil berjongkok dan memandangi derasnya air sungai berwarna kecoklatan yang perlahan mulai menggenangi halaman belakang, aku bergumam, jika saja air menyentuh tepian beton dapur dalam durasi kurang dari satu jam maka air akan meluap terus hingga membanjiri seluruh sudut rumah. Dugaanku itu ternyata benar.

Minggu, 15 Desember 2013

Tata Rias | Contoh Di Pentas Nyanyian Angsa

Nyanyian Angsa
Saat menggarap pementasan teater SMK Negeri 4 Manado yang memilih naskah Nyanyian Angsa karya Anton Chekhov, aku agak kewalahan juga. Pasalnya tokoh dalam naskah yang hanya dua; Vasili Svietlovidoff dan Nikita Ivanicth tersebut aku bagi lagi dan dimainkan delapan pemeran. Tata rias sebagai bagian dari artistik pementasan jelas bagian tersulit untuk direalisasikan. Berikut ini aku hadirkan contoh gambar konsep tata rias, kostum, dan hand property pernah dipentaskan pada ETeC 5th yang digelar Fakultas Ekonomi Udaya Bali, Oktober 2013 lalu:

Jumat, 13 Desember 2013

TERAS Gondol Juara I

Pentas Teater Getar Di Penjagalan
Hasil Juara I dari keikutsertaan di lomba Festival Drama Natal Tingkat SMA/SMK Dan Generasi Muda yang diraih Teater Sastra (TERAS) pada even yang dihelat Taman Budaya pada 10-11 Desember 2013 disambut dengan senyum puas dan bangga oleh semua anggota Theater Club Manado. Pementasan dengan naskah Getar Di Penjagalan karya Ie Hadi G dan disutradarai oleh Karlita Eman ini berhasil menyabet hampir semua kategori, antara lain Aktor Terbaik, Aktor Pembantu Terbaik, Artistik Terbaik, dan Sutradara Terbaik.

'Teater Sastra' Pilihan Nama Buat Lomba

"Jangan pakai nama Theater Club Manado kalau mau ikut lomba. Itu trademark kita untuk produksi pementasan, bukan lomba", tohok Dean Kalalo. Seperti biasa, ide apapun yang dicetuskan di padepokan Theater Club Manado harus melewati proses memasak yang lumayan melelahkan. Termasuk rencana ikut lomba pada Festival Drama Natal Tingkat SMA/SMK Dan Generasi Muda yang digelar oleh Taman Budaya Sulut, 10-11 Desember 2013.

Minggu, 20 Oktober 2013

Lomba Seni Gerejawi Kian Berantakan | Sebuah Catatan Pelaksanaan Pesta Seni Remaja GMIM 2013

Ada yang terus menggelitik perasaanku bila merenungkan masalah masa depan kesenian gerejawi akan seperti apa nantinya. Yang aku bicarakan di sini tentu merujuk ke wilayah geografis Sulawesi Utara (Sulut). Kesenian gerejawi di daerah ini bertumbuh selain melalui panduan liturgis dalam seremoni-seremoni peribadatan juga terstimulus dengan adanya pelaksanaan lomba di beberapa bidang, seperti Paduan Suara, Vokal Grup, Tarian Kreatif, Musik Band, Teater, Bintang Vokalia, serta Baca Mazmur - Kidung Agung. Bicara kekristenan di Sulut yang paling aktif melaksanakan lomba jelas harus mengacu ke denominasi gereja terbesar; Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Komisi Remaja dan Komisi Pemuda Sinode GMIM adalah komisi yang paling sering menghelat lomba setiap tahunnya. Kalau tidak salah ingat nama lombanya, yang satunya Pesta Seni Remaja (PSR) untuk kategori remaja dan satunya lagi Festival Seni Pemuda Gerejawi (FSPG) untuk kategori pemuda.

Potensi Ekonomi Sitaro


Tak terasa usia Sitaro sebagai sebuah kabupaten telah semakin matang sejak disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada tanggal 8 Desember 2006 lalu. Berbagai keraguan dan kegelisahan mengenai kesanggupan Sitaro dalam mengatur ritme pemerintahan serta pengelolaan sektor perekonomian ternyata lambat laun berubah menjadi sebuah optimisme kolektif. Awalnya, sebuah tendensi negatif yang terwakili dalam ungkapan “Mo jadi apa le tu Sitaro besok-besok?” sering mengusik banyak kepala orang yang meragukan masa depan kabupaten yang meliputi wilayah Siau, Tagulandang, dan Biaro tersebut. Namun pada perjalanannya yang akan menginjak usia tujuh tahun yang memang tergolong masih belia ini, justru mampu menepis keraguan yang dialamatkan kepadanya.