Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Minggu, 06 Maret 2016

Mr. A. A. Maramis, Tokoh Pejuang Lintas Agama

AA Maramis

Oleh: Joutje A. Koapaha (Jako) Paputungan
“…Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana...”
BAHWA Tanah Malesung Sulawesi Utara (Sulut) sebagai lumbung Pahlawan Nasional Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), tidak satu pun yang diragukan masyarakat Sulut plus. Itu terbukti melalui kepeloporan dan keteladanan nama-nama heroik asal Sulut seperti Robert Wolter Mongisidi, Walanda Maria Maramis, GSSJ Ratulangi, John Lee, dan P.N. Palar. Tetapi hampir tidak ada yang tahu bahwa dari antara mereka, terdapat seorang sosok unik yang juga sangat pantas diprioritas peroleh gelar Pahlawan Nasional dan Bintang Mahaputra Adipradana.

Peristiwa 14 Februari 1946 dalam Penilaian Sebenarnya

Benny Matindas
Oleh: Benni E. Matindas

GERAKAN patriotik Merah-Putih yang mengkudeta kekuasaan kolonial di Sulawesi Utara pada 14 Februari 1946 sungguh sebuah tonggak sejarah kebangsaan Indonesia yang sangat penting dan dengan dampak sangat strategis bagi perjuangan kemerdekaan republik ini. Tapi sayang, secara historiografis ia terlalu sering dinilai di bawah nilai seharusnya. Nyaris selamanya terdepresiasi. Bahkan banyak buku pelajaran sejarah nasional Indonesia tak mencatatnya setitik pun. Versi termutakhir sejarah nasional Indonesia, Indonesia dalam Arus Sejarah (2012), 9 jilid, yang kendati penulisannya melibatkan beberapa sejarawan asal Sulut (seperti Prof. A.B. Lapian) yang bahkan pula memiliki latar belakang kedekatan dengan para pelaku Peristiwa Merah Putih 14 Februari, pun ternyata cuma mencatatkan beberapa kalimat [dalam Jilid 6] mengenai perjuangan monumental ini.

Minggu, 15 Desember 2013

Tata Rias | Contoh Di Pentas Nyanyian Angsa

Nyanyian Angsa
Saat menggarap pementasan teater SMK Negeri 4 Manado yang memilih naskah Nyanyian Angsa karya Anton Chekhov, aku agak kewalahan juga. Pasalnya tokoh dalam naskah yang hanya dua; Vasili Svietlovidoff dan Nikita Ivanicth tersebut aku bagi lagi dan dimainkan delapan pemeran. Tata rias sebagai bagian dari artistik pementasan jelas bagian tersulit untuk direalisasikan. Berikut ini aku hadirkan contoh gambar konsep tata rias, kostum, dan hand property pernah dipentaskan pada ETeC 5th yang digelar Fakultas Ekonomi Udaya Bali, Oktober 2013 lalu:

Jumat, 13 Desember 2013

'Teater Sastra' Pilihan Nama Buat Lomba

"Jangan pakai nama Theater Club Manado kalau mau ikut lomba. Itu trademark kita untuk produksi pementasan, bukan lomba", tohok Dean Kalalo. Seperti biasa, ide apapun yang dicetuskan di padepokan Theater Club Manado harus melewati proses memasak yang lumayan melelahkan. Termasuk rencana ikut lomba pada Festival Drama Natal Tingkat SMA/SMK Dan Generasi Muda yang digelar oleh Taman Budaya Sulut, 10-11 Desember 2013.

Minggu, 20 Oktober 2013

Lomba Seni Gerejawi Kian Berantakan | Sebuah Catatan Pelaksanaan Pesta Seni Remaja GMIM 2013

Ada yang terus menggelitik perasaanku bila merenungkan masalah masa depan kesenian gerejawi akan seperti apa nantinya. Yang aku bicarakan di sini tentu merujuk ke wilayah geografis Sulawesi Utara (Sulut). Kesenian gerejawi di daerah ini bertumbuh selain melalui panduan liturgis dalam seremoni-seremoni peribadatan juga terstimulus dengan adanya pelaksanaan lomba di beberapa bidang, seperti Paduan Suara, Vokal Grup, Tarian Kreatif, Musik Band, Teater, Bintang Vokalia, serta Baca Mazmur - Kidung Agung. Bicara kekristenan di Sulut yang paling aktif melaksanakan lomba jelas harus mengacu ke denominasi gereja terbesar; Gereja Masehi Injili di Minahasa (GMIM). Komisi Remaja dan Komisi Pemuda Sinode GMIM adalah komisi yang paling sering menghelat lomba setiap tahunnya. Kalau tidak salah ingat nama lombanya, yang satunya Pesta Seni Remaja (PSR) untuk kategori remaja dan satunya lagi Festival Seni Pemuda Gerejawi (FSPG) untuk kategori pemuda.

Potensi Ekonomi Sitaro


Tak terasa usia Sitaro sebagai sebuah kabupaten telah semakin matang sejak disahkan dalam sidang paripurna DPR RI pada tanggal 8 Desember 2006 lalu. Berbagai keraguan dan kegelisahan mengenai kesanggupan Sitaro dalam mengatur ritme pemerintahan serta pengelolaan sektor perekonomian ternyata lambat laun berubah menjadi sebuah optimisme kolektif. Awalnya, sebuah tendensi negatif yang terwakili dalam ungkapan “Mo jadi apa le tu Sitaro besok-besok?” sering mengusik banyak kepala orang yang meragukan masa depan kabupaten yang meliputi wilayah Siau, Tagulandang, dan Biaro tersebut. Namun pada perjalanannya yang akan menginjak usia tujuh tahun yang memang tergolong masih belia ini, justru mampu menepis keraguan yang dialamatkan kepadanya.

Senin, 23 September 2013

2 Kosakata Paling Aneh Di Kekristenan Sulut

Tahukah anda bahwa selama ini orang Kristen di Sulawesi Utara mengantongi dua kosakata yang digunakan secara aneh dalam ibadah-ibadah? Mungkin anda salah satu di antara banyak orang yang pernah menggunakannya tanpa mempertimbangkan makna atau kaidah kebahasaan sebagai penuntun penyusunan kalimat. Dua kosakata yang paling sering disalahgunakan itu terutama dalam penggunaannya di dalam doa adalah:
1. Berpengapa
2. Pergumulan

50 TAHUN MANIKEBU: KISAH ABADI EMANSIPASI

Oleh: Benni E. Matindas

TEPAT 50 tahun silam, September 1963, jurnal bulanan Sastra terbit dengan memuat pernyataan sikap sekelompok seniman, budayawan dan cendekiawan yang pada masa itu terhitung melawan arus. Pernyataan tersebut diberi tajuk Manifes Kebudayaan. Kemudian lebih terkenal dengan akronim “Manikebu”, yang justru diberikan oleh lawan mereka – tentu saja dengan muatan nada menista. Dan memang Manikebu langsung diserang habis-habisan bukan saja oleh para intelektual di kubu Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat, ormas seniman dan budayawan di bawah Partai Komunis Indonesia/PKI), juga oleh sejumlah intelektual dari dunia akademik maupun birokrasi yang seperti biasanya memang mesti menjilat pada penguasa. Bahkan Manikebu diposisikan sedemikian rupa sampai bisa jadi santapan pengganyangan aksi-aksi massa yang kendati tak mengerti samasekali apa masalah kebudayaan yang mereka teriakkan dengan caci-maki dan kutuk itu. Puncaknya, Presiden Sukarno sendiri, yang juga mengutuk keras, mengumumkan larangan resmi atas Manikebu!

Minggu, 22 September 2013

Pangkunang

Salah satu adegan dalam Pangkunang
Menempuh perjalanan Manado - Bitung yang sejauh 45 menit dengan sepeda motor Honda Beat terasa cukup melelahkan. Namun capek di jalan akibat jauhnya jarak tempuh yang seringkali berpapasan truk konteiner itu terbayar ketika tiba di Gedung Kesenian Bitung (GKB) demi menyaksikan teater garapan Sanggar Tangkasi Bitung (STB). Lega hatiku sewaktu pertunjukan teater Pangkunang yang dijadwalkan pukul 18.00 Wita, jadi molor akibat masih menunggu kedatangan seorang pejabat, yang kalau tidak salah namanya Benny Mamoto. Seingatku dia baru saja pensiun namun tetap dikawal sejumlah anggota kepolisian. Tapi aku kebetulan tidak sementara memusingkannya. Konsentrasiku lebih tertuju kepada pertunjukan yang akan berlangsung.