Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2017

Kembara Luka

Kembara Luka
Kemarin pernah kita menerjang barisan ilalang kering
Hamparan padang yang simpan kata-kata tersunyi
Di sana kulihat jemari-jemarimu perlahan mulai meletih
Menyirami tunas-tunas mimpi yang sering terbantai perih

Minggu, 21 Agustus 2016

Pentas Puisi Gugur karya WS Rendra

Pementasan puisi yang dimainkan Vox Theater Club Manado di acara Pentas Sastra yang dilaksanakan Balai Bahasa Sulawesi Utara, 20 Agustus 2016. Berikut ini foto-fotonya:

Selasa, 26 Juli 2016

Dari Taiko Hingga Kantata

Di laut Segitiga Naga,
Bukan hanya Taiko[1] saja yang mampu dentamkan semangat dan kepedihan
Seutas senar juga bisa bangkitkan rindu sekaligus dendam seorang nelayan
Dalam bunyi-bunyi yang tak berbatas syair
Dalam syair-syair yang tak berbatas kata
Dalam kata-kata yang tak berbatas kenangan
Dalam kenangan-kenangan yang tak berbatas bunyi

Minggu, 17 April 2016

Kita dan Aksara

Kau pernah bisik, ada aksara langit yang tak ditulis dan tak dikenal di bumi
Lalu siapa yang bisa membacanya dalam sajak angin hari ini?
Lalu siapa yang bisa mengejanya dalam irama orkestra di lautan?
Kau menjawab, hanyalah para malaikat dan Tuhan
Padahal dengan aksara itu ingin sekali kutulis nama ibu di dinding etalase pertokoan
Agar setiap kali melintasinya kusinggahi juga ruang kemurahan Ilahi
Karena ribuan keluh di oratorium yang telah diucapkannya hanya tentang aku
Padahal dengan aksara itu ingin sekali kutulis kisah kita yang masih tergaris samar
Agar di setiap lembar hari yang kurengkuh dalam ingatan hanyalah aroma pelukanmu
Menggelepar kejam
Dan tajam

Senin, 28 Maret 2016

LONCENG, ILALANG, DAN LAILA



Laila,
Serupa kisah rembulan dan kenangan,
Suara lonceng dan gemerisik ilalang bagiku juga adalah nyanyian
Berirama di antara lereng tanah yang tandus dan belum berbentuk
Ia selalu saja hidup, bangkit, dan bergairah lagi dalam putaran alam
Karena kicau burung-burung senantiasa menghidupkannya di setiap pagi
Meski berkali-kali ia terlelap dan mati saat malam asyik mementaskan konsernya

Rabu, 09 Maret 2016

KALIBARAT



Kalibarat sekiriman pesan,
Aku sms cinta padamu sekandas-kandasnya pulsa orang susah
Agar kau tahu aku sementara sungguh-sungguh berharap

Kalibarat setitik cinta,
Aku sirami kau hingga jadi bunga mekar indah
Biar nektar kelak mengucur dari kuncup bibirmu

Jumat, 29 Januari 2016

Bencana dan Tangis Seorang Nenek

(mengenang tragedi bencana Manado, 15 Januari 2014)

Kisah cengkerama bencana dan tangis seorang nenek di antara pergantian sebuah musim
Saat gunung mengirim air dan merendam jengkal-jengkal rumah serta harapan sunyi perempuan tua
Segala doa dari airmatanya jadi kepingan-kepingan nestapa yang melesap ke dalam bencana
Baginya, tak ada lagi tempat bersujud karena segala tanah tlah menjelma padang air tanpa tepi
Baginya, tak ada lagi jalan berlari sebab sudut-sudut kota tlah memajang kehancuran yang ngeri
Padahal kemarin dia masih berwajah riang menyirami setunas kata bersama senja
Padahal semalam dia sempat menerbangkan pucuk gelisah yang ketika itu berdiri menyapa kesepiannya
Dan lalu paginya mahda angin dan bianglala hilang dijemput gelora air
Wajah keriputnya yang biasa menggambar dera kian pucat pasi tergerus gelisah
Tangannya gemetaran perlahan dan terangkat hingga tubuhnya terguncang hebat
Mata rabunnya terbelalak menatap sebuah pahatan di dinding langit keruh

Dialogia Kisah Beku

Hei, apa kabar senja yang lama setia membalut lukamu di batas pantai?
Tak masalah jika kau tetap diam sementara aku juga tetap dalam celoteh tanpa ujung.

Mungkin kau ingat, jika kita lama mengerami penyesalan serupa kesetiaan barisan para penjaga kesakralan kuil.
Kita pun biasa membiarkan ilalang memenuhi sepetak telaga harapan lalu ia menggenang dangkal.
Hingga tak lagi kita temukan kejernihan air serupa Narsis tergoda pada bayang wajahnya sendiri.
Hingga akhirnya kita tak lagi punya apa-apa untuk memaknai pergulatan zaman yang perlahan beku.
Semua kekeruhan menjelma jadi hitungan sebab musabab daun-daun jatuh yang digantung dalam angka.

Pemabuk Tua Dan Sepi

Pemabuk tua dan sepi
Dua kawan sejati
Bersatu dalam kepedihan
Bersama merindukan malam

Pemabuk tua dan sepi
Dua kawan sejati
Sama-sama terlantar tanpa selimut yang bisa membungkus kidung sengsara
Sempoyongan dan lalu terkapar tanpa daya di pelataran peradaban kota yang bisu

Kopi dan Kidung Amorina

Ini pagi yang basah
Tetes embun dan lambai daun luruh dalam doa
Dan seketika itupun rohku terbang mengembara

Di teras itu, kuhirup aroma kenangan dalam kenikmatan segelas kopi
Terkadang melintas bayangan wajahmu yang bergegas memburu malam
Lalu ditelan sunyi yang kejam seumpama belati tercecer di antara magma

Nelayan di Utara

"O, kasihan, gelap di Selatan"
Doa lelaki itu sembari genggam panggayung
Minta Tuhan agar badai jangan datang ke sana
Ke tempat rintihan doa yang akan dikayuhkannya
Agar hari itu akan ada sepotong rejeki
Buat tambal sedikit susah perjuangan hidup

"O, kasihan, masih gelap di Selatan"
Sekejap meluncurlah biduk bersayap bambu itu ke arah laut

La Rosa

Moga hatimu ditumbuhi Mawar
Merambat hingga ke jantung
Memerah di sekujur kenangan

Meski ingatan tentang itu telah berlari sejauh mimpi
La Rosa, ingatkah kalau kita pernah punya kisah petualangan bersama?

Di hadapan deru ombak dan iringan cericit jangkrik kala itu
Rebahlah jiwa lelah kita di atas hamparan pasir basah
Daun-daun ketapang ikut menari dan blingsatan ditambur angin

Mengiringi nafas kita yang perlahan terengah-engah dan telanjang
Lalu seketika lautpun jadi kita
Lalu langitpun jadi kita
Dan anginpun jadi kita

La Rosa, kita lupa sementara lekuk wajah gelisah kota
Pajangan dingin etalase-etalase
Percintaan kita jadi seumpama seutas benang yang dipintal tanpa ritme

Mata Sebuah Batas Waktu

Bila akhirnya hari ini kita bergandengan tangan
Dan menatap cakrawala bersama
Jalan Tuhanlah yang kita tempuh
Mata kita kini hanya tertuju ke sebuah batas waktu
Yang dikaruniakan entah sampai kapan

Musim Tak Bersimfoni

Amor, jika hari ini kau lihat wajahku masih pucat pasi
Itu berarti aku masih menyeret sisa semangat mengejar matahari
Sebelum semuanya beranjak hilang di kaki langit, dan
Juga tafakurku lenyap dalam putaran musim

Amor, aku ingin kembali ke daratan nasib itu
Ketika musim berubah kejam dan tak ingin bersimfoni
Agar kita bertemu lagi
Agar kau mau kembali mengajariku
Seribu kisah tentang takdir lautan
Agar perlahan kepedihanku mampu memintal ombak
Jadi benang dan menambal satu per satu lubang resah

Dipanggilnya Lautan Itu Ibu

Gadis mungil
Dengan perahu kecil
Padang pucat di bulan dan ilalang kering di tepi muara sungai
Tersketsa pada dinding kertasnya

Gadis mungil
Wajah polos
Dengan perahu kecil
Melipat tangan dan menghanyutkan doanya ke rahim lautan
Meminta moga mimpi-mimpi resah tak lagi datang mendekat

Sabtu, 06 Juli 2013

STASIUN TUA DAN SEPIKU | Puisi |


tak kunjung kudengar lagi suaramu
yang biasanya mengocehi sepi
Bersamaku kini cuma keriap dingin
Yang tlah menawan aku dalam malam

di sana kau tak lagi menghitung berapa
penggal semangat yang tersayat dalam malam
saat kau dan kehangatan meniup peluit panjang
gerbong-gerbong bergerak
membawa pergi muatan

selamat tinggal, stasiun tua
rel-relmu ikut berderit bersama keretak pedihku
selamat berpisah, mimpi
kita tlah hadir di abad yang salah
yang jiwanya membenci ketulusan

bergiranglah dalam bebasnya gerak cintamu
aku sudah tergilas
bercampur debu rel keretamu

SAHABAT DAN TERATAI | Puisi |


Tidak ada yang mau menggambar teratai di hatiku
Sekalipun telah hadir sketsa sungai di sana
Memanjang dalam benaman kabut
Yang airnya jadi tirai bagi kedalaman jantungnya

Arus
Dalam
Diam
Menelan

Yang mau menggambar teratai di hatiku tak ada
Padahal kupeluk bahu sahabat
Kubri kuas dan tinta
Di hadapan riak-riak air telaga

Dia malah memilih pergi
Membakar keringat
Menguapkan semangat
Dan tak mau menggambar di hatiku

Arus
Dalam
Diam
Menerkam
Lalu hilang

Akhirnya tinggal kupotret dalam kenangan
Rautan dari banyak nyanyian, sorak dan peluh
Bukti senyum dan getir bersama
Yang lunglai dalam telaga tak berair
Tanpa tergambari teratai lagi

Ikhtiar Cinta | Puisi |

Akhirnya kitapun menatap masa dari sebuah jendela yang sama
Dari sudut itulah kau dan aku mulai bisa membentangkan ribuan malam
Mencatatkan kisah-kisah padang pengembaraan yang baru
Sembari terus ikut mengalir dalam gairah segala bahasa angin
Menuju ke arah tempat cinta kita berikhtiar untuk bermuara

MAKLUMAT PAGAN II | Puisi |


Setiap laut ada penandanya
Setiap gunung ada datunya
Bila kau itu adalah badai
Selamat datang di negeri utara
Nusanya perempuan
Kami mendesah dalam diam
Juga membunuh dalam diam
Pasir mengisap
Laut menyerap
Udara mencekik
Disambut oleh kata
Berakhir dengan kata
Cukup dalam kata
Yang bukan hanya sisik terlepas
Tapi sekalian napas tercerabut
Baiknya kau tidak datang
Bila kau adalah badai
Karena setiap gunung ada datunya
Maka hendaknya hidup tidak berakhir dengan pedang

MAKLUMAT PAGAN I | Puisi |

Datu-datu sudah banyak salah
Hitam dikira putih
Curian dianggap penghasilan
Kebenaran tlah disungsangkan
Namun urung dimafhumi
Bumi akan berarak menerjangi tabiatmu
Elang-elang putih
Wangi-wangi kamboja
Bulu-bulu bersayap, mengepak di telinga
Terbang ringan dalam angin
Kanan di tombak
Kiri di pisau
Bawa pekikkanmu ke banua
Potong tangan datu lalim
Siapa berjiwa, hendaklah gemetar
Siapa bernyawa, mestilah bersungkur
Siapa berempedu, memucatlah wajahmu